Postingan

Menampilkan postingan dengan label Poetry Collection

Aku Punya Sore

Gambar
Aku sedang tidak memakai senja Tapi sore aku peluk erat Enggan bertemu malam Tapi menepis cahaya gemerlap Mencari kegirangan pagi Sore tetap aku peluk erat Meringkih pada keremangan Tertutup langit kemerahan Dan soreku tetap aku peluk erat

Balada Cuti Lama

Aku sedang meminta waktu untukmu sang -penekan waktu Mengertilah Kau harus aku tinggalkan sejenak Kali ini kita harus berdamai Kau harus mengalah Dengarkan aku dan mengertilah Biarkan aku menikmati setiap detik tanpa harus memikirkanmu Ada kalanya kau tidak selalu menjadi yang nomor satu -penekan waktu Bersabarlah menungguku Kembali padamu Hanya seminggu - Buat yang mau cuti atau libur panjang, tetapi masih memikirkan pekerjaaan, mari kita berdamai dengan pekerjaan yang akan kita tinggalkan. Berkomunikasi dengan pikiran kita sendiri, semoga setelah kembali, semesta memudahkan pekerjaan kita kembali, seperti sebelumnya-

Sudah Lama Kita Tidak Bercerita

Gambar
Waktu menuntutku mengumpulkan pilar – pilar untuk kehidupanku kelak. Hingga kita tidak sempat bercerita lagi. Berkeluh kesah tentang jalanan – jalanan yang pernah aku lewati, atau sekedar bercengkrama tentang hal – hal yang aku lalui hari ini. Bahkan sebelumnya aku berjanji padamu akan selalu membagi pengalaman – pengalamanku, agar kamu dapat menyimpannya, dan membangkitkan memoriku kelak jika aku merasa rindu. Maafkan aku diary onlinku. Sesekali diwaktu senggangku, aku akan kembali padamu, kamu tidak perlu cemburu.

Suara Hati

Gambar
Setiap pagi di setiap hari Hatiku selalu berusaha memberi tahuku sesuatu dan aku tidak bisa menerimanya Logikaku berujar kata yang berbeda Sedangkan hatiku selalu menuntunku untuk mengakui apa yang ia rasakan sebenarnya Sering aku katakan pada hatiku Jangan selalu ikut campur pada setiap urusanku Itu sangat mengganggu Tapi ia selalu saja mengikuti ke manapun jejak langkahku Berhentilah Berhenti ikut campur urusanku Kali ini biarkan saja logika dan pikiranku saja yang bicara Aku terlalu lelah Berjalan selalu mengikuti petunjukmu yang aku temukan rasa sakit bahkan di sekujur tubuhku Kau tersenyum mengejekku "Pikiran dan hati seharusnya tidak berjalan sendiri - sendiri. Dengarkan aku, dan kendalikan pikiranmu", katamu.

FILOSOFI POHON I

Gambar
Mencintai layaknya menanam sebatang pohon di tengah hutan Maksudmu? Iya.. Pada pohon kita belajar ilmu ikhlas Di tengah hutan, sebatang pohon ditanam lalu ditinggalkan. Ia tetap tumbuh tanpa perlu dipupuk dan disiram oleh yang menanam. Alami dengan bantuan alam. Hidup dan tumbuh rimbun, penuh ranting, daun, dan buah. Saat pohon hidup, ia berguna bagi banyak makhluk. Menebar sejuk, memberi pupuk – pupuk baru, pun ketika ia mati, kayunya bisa kita manfaatkan untuk banyak hal. Menjadi rumah untuk berteduh atau bahkan menjadi kertas yang akan menuliskan sisa – sisa rindu pada cinta yang ditanam dengan penuh keiklasan. Jadi bagaimana, sudah kau temukan cinta yang ikhlas? Belum.

Senja Di Ujung Laut Lepas

Gambar
Senja di ujung laut lepas Berbincang ia dengan bisik - bisik ombak Hempaskan pada batu - batu karang Kerang - kerang di lautan Pagi tak pernah menunda kapan ia berakhir Senja tak pernah bertanya Kapan ia akan datang Senja di ujung laut lepas Badai tak pernah mengusik Kembangkan layar Mengayuh sampai jauh

KepadaMu

Aku berjalan beriringan bersama waktu untuk tahu apa tujuanku kepadaMu yang telah mempertemukan aku pada surya pada embun yang bergelayut manja di pucuk – pucuk daun yang menanti akan jatuh beriringan pada desau – desau angin pagi itu Aku yang bahkan tak mengenal arah untuk tahu Ke mana derap langkah itu menuntunku kepadaMu yang telah mengalirkan nyawa disetiap raga yang bahkan tak tahu rasa KepadaMu yang selalu bersamaku Apa pantas aku mengucapkan tanya lagi? Untuk semua yang telah Engkau berikan kepadaku Yang tak pernah Kau ucapkan Setiap detik yang berlalu Dengan sempurna -bersambung

Tenang dan Bahagia

Gambar
Ada jutaan kebahagiaan yang disimpan oleh lautan ketika kita memandangnya. Dan kebahagiaan itu bisa kita dapatkan secara cuma - cuma. Hanya dengan memandangnya saja rasanya akan membuat tenang dan bahagia. Sederhana sekali. Mendamaikan dan menentramkan hati. Deru ombaknya pun menarik ulur seakan kita bisa menitipkan kegundahan yang kita miliki kepadanya, tanpa perlu banyak tanya. Lautan selalu membebaskan kita untuk mengaguminya tanpa syarat, tanpa alasan, tanpa banyak tuntutan dan tak perlu jawaban. Tak perlu saling mengenal ataupun bertegur sapa, cukup dengan diam terpaku saja, berbagi rasa lewat pandangan semata. Hebat sekali. Bagaimana bisa kegundahan hati bisa terobati tanpa perlu basa - basi? Hanya lautan yang bisa melakukannya.

Sudut Meja (2)

Aku kembali duduk di sudut meja Dan kau tahu apa? Persis sama Atau hampir mirip dengan sudut meja yang pernah mematahkan idealismeku Aku tertawa pada diriku sendiri Jadi kau kembali pada sudut meja? Hahahaha.. Miris sekali Sudah nikmati saja Kau juga sudah tidak memiliki idealisme lagi Bukan? Kau sama seperti orang - orang lain Peduli apa dengan idealisme? Persetan Perutmu lebih penting Orang lain juga tidak akan peduli Kau bahkan tidak punya radar Atau tanda di atas kepalamu Sudut mejamu juga tidak terlalu buruk Kaki - kakinya kokoh Bahkan kau tidak akan jatuh Jika kau menaikinya Tutup saja matamu ketika kau duduk Jangan pedulikan perasaan Semuanya tidak penting Apa guna? Sekali lagi, perutmu lebih penting

Rindu

Engkau tidak perlu bertanya tentang rindu ini milik siapa Karena tentu saja kau tahu jawabannya Aku masih teringat masa - masa indah Ketika kita bersama Suka dan duka yang kita lalui Tawa atau amarahmu Masih terukir jelas diingatanku Kata - katamu selalu meneguhkanku hingga kini Menjadi acuanku untuk bertindak Dan menjalani kehidupanku Iya, kebersamaan kita memang begitu singkat Tapi cukup bagiku untuk dapat merasakan anugrah terindah dari Tuhan Atas kasih sayangmu kepadaku Meskipun sekarang kita tidak bersama lagi Bagiku engkau adalah kenangan termanis yang pernah aku miliki dalam kehidupan ini Aku merindukanmu, amat sangat rindu Semoga Tuhan bisa mengirimkan sepucuk rinduku kepadamu Bapak

Aku Ingin Menjadi Diriku

Aku  ingin menjadi diriku sendiri yang menjalankan apapun atas kemauanku sendiri, dan bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Apakah itu terdengar begitu egois? Aku ingin menjadi diriku sendiri, tanpa peduli seberapa banyak followers di akun social mediaku, atau berapa banyak followers di akun social media teman – temanku. Aku ingin menjadi diriku sendiri, yang bisa dengan bebas mengenakan pakaian apapun sesukaku, tanpa peduli pendapat orang lain tentang seberapa bagus, mewah dan mahal pakaian yang aku kenakan. Aku ingin menjadi diriku sendiri, yang bebas memposting foto – foto di akun instagramku tanpa peduli seberapa bagus foto yang aku posting, seberapa bagus pemandangan yang aku posting, seberapa like yang aku dapatkan, dan seberapa positif komentar – komentar yang aku terima. Aku ingin menjadi diriku sendiri, yang bebas menggunakan akun pathku tanpa peduli seberapa hits tempat – tempat yang aku kunjungi. Aku ingin menjadi diriku sendiri, yang bisa dengan bebas mel...

Budak Benda Mati

Gambar
Kita duduk bersama kala itu Aku, Kau dan Dia Ku pandang kau dengan benda kecil itu Tetap sama  Ku lirik dia Tidak berbeda jauh Ku tanyakan, "Minuman apa yang ingin kalian pesan" Jawab yang sama, "Apa saja" Kita duduk bersama Tanpa cerita Tanpa tawa dan canda Aku benci benda kecil yang selalu menjauhkan kita Buat apa kita duduk satu meja tanpa bercengkrama? Dengan bodohnya aku menertawakan diriku sendiri Yang terhanyut dalam permainan dunia Iya.. Aku ikut memainkan benda kecil digenggamanku Menjadi budak benda mati Tanpa harus getir memikirkan rasa Nikmati saja

Sepi Satu

Gambar
Terpelihara sepi Pada ruang sunyi ini Ia kadang tak berkaki, tak bernyali Kadang bisu dan tuli Sudah lama ia dipelihara Ditempa dengan memori lama Dirakit dengan sejuta rasa Tapi ia tetap saja mengiba Pada dinding ini ia mengeluh Berteriak, mengaduh tanpa riuh Meloncat, berlari hingga berpeluh Berharap tuannya akan luluh Ia tetap saja sepi Meringkuk pada temaram malam hari Menggores cerita pada dinding ini Menjalar sampai retak, tak berbentuk lagi

SUDUT MEJA

Idealismeku sudah mati Mati terinjak – injak Terkoyak – koyak Oleh sudut meja itu Dulu selalu ku teriak lantang tentang kejujuran Tapi kini suaru itu tercekat Tertelan dan terikat Oleh sudut meja itu Dulu selalu ku bersuara keras tentang kebaikan Tapi suara itu telah menguap Binasa dan lenyap Oleh sudut meja itu Aku telah menjadi buta Aku telah menjadi bisu Aku telah menjadi tuli Oleh sudut meja itu Tangan kakiku terikat Terikat tak berkutik, tak bergerak Mati dalam kelumpuhan tak berdaya Oleh sudut meja itu Mimpiku mimpi ini Tetang udara – udara bersih tanpa noda Telah hancur menjadi debu, debu jalanan jalang Oleh sudut meja itu Sudut meja itu Sudut hitam gelap pekat Memenjara nyawa tanpa cela Mengunci jiwa tanpa dosa

Cinta Daun kepada Tangkai

Gambar
Daun kecil itu tumbuh pada setangkai pohon yang berwarna hijau. Ia sangat bahagia, bahagia karena dapat hidup berdampingan dengan tangkai yang begitu ia cintai. Akhir – akhir ini, tangkai terlihat lemah, mungkin karena langit tidak pernah bercerita melalui hujan, jadi akar tidak dapat merasakan titik – titik air untuk tangkai. Sebenarnya di sisi lain daun juga merasakan hal yang sama, tubuhnya terasa lemah dan layu, mungkin karena sang surya memancarkan sinarnya terlalu tajam pada rongga – rongga tubuhnya. Tapi ia tidak pernah menampakkan rasa sakitnya kepada tangkai, ia takut tangkai akan sedih melihatnya. Sampai suatu hari, kemarau panjang telah datang, tangkai terlihat semakin melemah, daun melakukan segala cara agar tangkai pulih kembali. Ia meminta akar untuk mencari air sampai ke ujung – ujung tanah yang mampu ia capai. Daun akan membuatkan makanan untuk tangkai, dengan sisa – sisa tenaga yang ia miliki, sekalipun ia sudah tidak kuat bertahan lagi pada tangkai. Daun ...

Menunggu Senja

Aku masih menunggu senja Saat di mana mentari kembali ke peraduannya Menembus gumpalan awan debu Meninggalkan goresan merah merindu Aku masih menunggu senja Saat di mana burung kecil kembali pada ibunya Meringkuk pada dahan – dahan tua Merengkuh segala luka merana Aku masih menunggu senja Saat di mana angin bertiup dengan rasanya Udara yang tak sehangat siang hari Mengusik sepi tak bertepi Aku masih menunggu senja Saat binatang malam mulai bernyanyi Menghibur suasana hati Menghapus rindu merana yang tak bertepi Karlin Prastuti, 2015